Selasa, 07 Juni 2016

Makalah Tipe-Tipe Belajar dan Kesulitan Belajar - 3



Download makalah ini disini:


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang Masalah
Belajar merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia disepanjang zaman, mulai dari Nabi Adam as, sampai kepada manusia yang hidup di akhir zaman. Ia merupakan tuntutan alamiah setiap individu untuk mengembangkan potensi diri serta sebagai usaha menjaga keberlansungan hidup atau eksistensi dirinya di muka bumi.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan itu begitu bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah, di rumah atau dengan teman sepermainannya.

1.2.       Rumusan Masalah
a.         Apa pengertian belajar dan kesulitan belajar?
b.        Bagaimana tipe belajar itu?
c.         Apa saja kesulitan belajar itu?
d.        Apa faktor penyebab kesulitan belajar?
e.         Bagaimana usaha mengatasi kesulitan belajar?

1.3.       Tujuan Penulisan
Tujuan penyajian makalah ini adalah untuk mengetahui proses belajar dan kesulitannya, serta cara-cara mengatasi kesulitan belajar tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.       Pengertian Belajar dan Kesulitan Belajar
2.1.1.      Pengertian Belajar
Belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks.
Sementara itu beberapa ahli mempunyai definisi tersendiri tentang belajar, di antaranya yaitu:
1.        Hilgard dan Bower: “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman yang berulang-ulang, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungannya berupa respon pembawaan, kematangan atau keadaan sesaat seseorang”.
2.        Witherington: “Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian”.
3.        R. Gagne: “Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku”[1].


2.1.2.      Pengertian Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar adalah suatu istilah umum yang mengacu pada beragam kelompok gangguan yang terlihat pada kesulitan dalam menguasai dan menggunakan kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, berfikir atau kemampuan matematis.
Seorang siswa dikatagorikan sebagai anak yang bermasalah apabila ia menunjukan gejala-gejala menyimpang dari prilaku yang lazim dilakukan oleh anak-anak pada umumnya[2].
Penyimpangan prilaku ada yang sederhana semisal: mengantuk, suka menyendiri, kadang terlambat datang, ada juga yang ekstrim semisal sering membolos, memeras teman-temannya, ataupun tidak sopann kepada orang lain juga kepada gurunya.

2.2.       Tipe-tipe Belajar
Gagne menyusun tipe-tipe belajar berdasarkan hasil belajar yang diperoleh dan bukan proses belajar yang dilalui peserta didik untuk mencapai hasil itu.  Selain itu, Gagne mencoba menempatkan delapan tipe belajar itu berada dalam suatu urutan hirearkis, yaitu tipe belajar yang satu menjadi dasar atau landasan tipe belajar berikutnya.  Dengan demikian, peserta didik yang tidak menguasai tipe belajar yang terdahulu,  akan mengalami kesulitan dalam mengusai tipe belajar selanjutnya.  Selanjutnya Gagne menambahkan bahwa empat  tipe belajar pertama (nomor 1 s/d 4) kurang relevan untuk belajar di sekolah, sedangkan empat tipe kedua (nomor 5 s/d 8) lebih menonjolkan pada belajar kognitif yang memang ditonjolkan di sekolah[3].
Untuk lebih jelasnya, kedelapan tipe belajar ini disajikan dalam tabel berikut[4]:
No
Tipe Belajar
Hasil Belajar
Contoh Prestasi
1
Belajar Sinyal
(signal Learning)
Memberi reaksi pada peransang
(S-R)
Guru sejarah yang galak ditakuti oleh siswa : Siswa tidak suka sejarah
2
Belajar Stimulus Respon (Stimulus response learning)
Memberikan reaksi pada peransang
(S-R)
Guru memuji tindakan siswa : Siwa cenderung mengulang
3
Belajar merangkai tingkah laku
(Behaviour chaining learning)
Menghubungkan gerakan yang satu dengan yang lain
Membuka pintu mobil – duduk – kontrol persneling – menghidupkan mesin – menekan kopling – pasang persneling 1 – menginjak gas
4
Belajar asosiasi verbal (Verbal chaining learning)
Memberikan reaksi verbal pada stimulus/peransang
No teleponmu? (021) 617812
5
Belajar diskriminasi (discrimination learning)
Memberikan reaksi yang berbeda pada stimulus-stimulus yang mempunyai kesamaan
Menyebutkan merek mobil-mobil yang lewat di jalan
6
Belajar konsep (concept learning)
Menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu
Manusia, ikan paus, kera, anjing, adalah makhluk menyusui
7
Belajar kaidah (rule learning)
Menghubungkan beberapa konsep
Benda bulat berguling pada alas yang miring
8
Belajar memecahkan masalah (problem solving)
Mengembangkan beberapa kaidah menjadi prinsip pemecahan masalah
Menemukan cara memperoleh energi dari tenaga atom, tanpa mencemarkan lingkungan hidup
Dengan demikian, ada beberapa prinsip pembelajaran dari teori gagne, yaitu antara lain berkaitan dengan:
1.        Perhatian dan motivasi belajar peserta didik,
2.        Keaktifan belajar dan keterlibatan langsung/pengalaman dalam belajar,
3.        Pengulangan belajar,
4.        Tantangan semangat belajar,
5.        Pemberian umpan balik dan penguatan belajar,
6.        Adanya perbedaan individual dalam perilaku belajar.

2.3.       Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar yang dirasakan oleh anak didik bermacam-macam, yang dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu:
1.        Dilihat dari jenis kesulitan belajar:
a.          Ada yang berat;
b.         Ada yang sedang.
2.        Dilihat dari bidang studi yang dipelajari:
a.         Ada yang sebagian bidang studi;
b.         Ada yang keseluruhan bidang studi.
3.        Dilihat dari sifat kesulitannya:
a.         Ada yang sifatnya permanen/menetap;
b.         Ada yang sifatnya hanya sementara.
4.        Dilihat dari segi faktor penyebabnya:
a.         Ada yang karena faktor intelegensi;
b.         Ada yang karena faktor non-intelegensi.
Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis. Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya :
1.        Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2.        Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai dengan baik.
3.        Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau rendah.
4.        Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5.        Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. 

2.4.       Faktor-faktor yang Menyebabkan Kesulitan Belajar
1.        Faktor anak didik
Anak didik adalah subjek yang belajar. Kesulitan belajar yang diderita anak didik tidak hanya yang bersifat menetap, tetapi juga yang bisa di hilangkan dengan usaha tertentu.
Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak didik:
a.         Inteligensi (IQ) yang kurang baik.
b.         Bakat yang kurang atau tidak sesuai dengan bahan pelajaran yang dipelajari atau yang diberikan oleh guru.
c.         Faktor emosional yang kurang stabil.
d.        Aktivitas belajar yang kurang.
e.         Penyesuaian sosial yang sulit.
f.          Lantar belakang pengalaman yang pahit.
g.         Cita-cita yang tidak relevan.
h.         Latar belakang pendidikan dengan sistem sosial dan kegiatan belajar mengajar di kelas yang kurang baik.
i.           Lama belajar yang tidak sesuai dengan tuntutan waktu belajarnya.
j.           Keadaan fisik yang kurang menunjang.
k.         Kesehatan yang kurang baik.
l.           Seks atau pernikahan yang tak terkendali.
m.       Pengetahuan dan keterampilan dasar yang kurang memadai atas bahan yang dipelajari.
n.         Tidak ada motivasi belajar.
2.        Faktor sekolah
Yang termasuk didalamnya antara lain adalah metode mengajar, kurikulum, hubungan guru dengan siswa, hubungan siswa dengan guru, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, keadaan gedung, metode belajar siswa[5].  
Faktor-faktor dari lingkungan sekolah yang dapat menimbulkan kesulitan belajar bagi anak didik adalah sebagai berikut:
a.         Guru dengan anak didik kurang harmonis.
b.         Guru menuntut standar pelajaran di atas kemampuan anak.
c.         Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha mendiagnosis kesulitan belajar anak didik.
d.        Cara guru mengajar kurang baik.
e.         Alat media yang kurang baik.
f.          Perpustakaan sekolah kurang memadai.
g.         Suasana sekolah yang kurang menyenangkan.
h.         Bimbingan dan penyuluhan yang tidak berfungsi.
i.           Kepemimpinan dan administrasi yang kurang menunjang.
j.           Waktu sekolah dan disiplin yang kurang.
3.        Faktor keluarga
Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya[6]. Orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anak akan menjadi penyebab kesulitan belajar pada anak. Orang tua yang bersifat kejam, otoriter akan menimbulkan mental yang tidak sehat bagi anak. Hal ini membuat anak tidak tentaram, tidak senang dirumah, ia pergi mencari teman sebayanya, sehingga lupa belajar.
Keluarga adalah lembaga pendidikan informal (luar sekolah) yang diakui keberadaannya dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, ada beberapa faktor dalam keluarga yang mennjadi penyebab kesulitan belajar anak didik sebagai berikut:
a.         Kurangnya kelengkapan alat-alat belajar bagi anak di rumah.
b.         Kurangnya biaya pendidikan yang disediakan orang tua.
c.         Anak tidak mempunyai ruang dan tempat belajar yang khusus.
d.        Ekonomi keluarga yang lemah atau tinggi yang membuat anak berlebih-lebihan.
e.         Kesehatan keluarga yang kurang baik.
f.          Perhatian orang tua yang tidak memadai.
g.         Kebiasaan dalam keluarga yang tidak menunjang.
h.         Kedudukan anak dalam keluarga yang menyedihkan.
i.           Anak terlalu banyak membantu orang tua.
4.        Faktor masyarakat sekitar
Jika keluarga adalah komunitas masyarakat terkecil, maka masyarakat adalah komunitas masyarakat kehidupan sosial yang tersebar. Dalam masyarakat terpatri strata sosial yang merupakan penjelmaan dari suku, ras, agama, antar golongan, pendidikan, jabatan, status, dan sebagainya. Pergaulan yang terkadang kurang bersahabat sering memicu konflik sosial. Keributan, pertengkaran, pembunuhan, perjudian, perampokan, gosip dan perilaku jahiliyah lainya sudah menjadi santapan sehari-hari dalam masyarakat. Ketergantungan pada obat terlarang membuat anak didik pasrah pada nasib. Anak didik tidak bisa lagi dididik karena pengaruh obat terlarang. Keributan lingkungan sekitar berpotensi memecahkan konsentrasi anak didik dalam belajar. Akhirnya anak didik tidak betah belajar karena sulit membangkitkan daya konsentrasi. Kesulitan belajar bagi anak didik juga bersumber dari media cetak dan media elektronik.

2.5.       Usaha-usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan langkah penting yang meliputi:
1.        Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian  tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa;
2.        Mengidentifikasi dan menetukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan kebaikan;
3.        Menyusun progam perbaikan, khususnya progam remedial teaching (pengajaran perbaikan)[7].
Setelah langkah-langkah diatas selesai,barulah guru melakukan langkah selanjutnya, yakni melakukan progam perbaikan.
1.        Analisis Hasil Diagnosis
Data dan informasi yang diperoleh guru melalui diagnostik kesulitan belajar tadi perlu dianalisis sedemikian rupa, sehingga jenis kesulitan khusus yang dialami siswa yang berprestasi rendaj itu dapat di ketahui secara pasti.Contoh, Siti Fulanah mmengalami kesulitan khusus dalam memahami konsep kata polisemi. Polisemi ialah sebuah istilah yang menunjuk kata yang memiliki dua makna atau lebih. Kata”turun”, umpamanya dapat dipakai dalam berbagai frase seperti turun harga,turun ranjang,turun tangan dan seterusnnya. Contoh sebaliknya,kata “naik” yang juga dapat dipakai dalam banyak frase, seperti naik daun, naik darah,naik banding, dan sebaagainya.
2.        Menentukan Kecakapan Bidang Bermasalah
Berdasarkan hasil analisis tadi, guru diharapkan dapat menetukan bidang kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan[8]. Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu:
a.         Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri;
b.         Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orang tua;
c.         Bidang kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani baik oleh guru maupun oleh orang tua
3.        Menyusun Progam Perbaikan
Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan, sebelumnya guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut:
a.         Tujuan pengajaran remedial;
b.         Materi pengajaran remedial;
c.         Metode pengajaran remedial;
d.        Alokasi waktu pengajaran remedial;
e.         Evaluasi kemajuan siswa setelah mengekuti progam pengajaran remedial.


BAB III
PENUTUP

3.1.       Kesimpulan
Belajar dapat diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian.
Kesulitan belajar adalah suatu istilah umum yang mengacu pada beragam kelompok gangguan yang terlihat pada kesulitan dalam menguasai dan menggunakan kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, berfikir atau kemampuan matematis.
Tipe-tipe belajar menurut R. Gagne yaitu; Belajar Sinyal (signal Learning),  Belajar Stimulus Respon (Stimulus response learning), Belajar merangkai tingkah laku (Behaviour chaining learning), Belajar asosiasi verbal (Verbal chaining learning), Belajar diskriminasi (discrimination learning), Belajar konsep (concept learning), Belajar kaidah (rule learning) dan Belajar memecahkan masalah (problem solving).
Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak didik dapat dibagi menjadi 4 (empat) yaitu; Faktor anak didik, Faktor sekolah, Faktor keluarga dan Faktor masyarakat.
Salah satu langkah penting dalam mengatasi kesulitan belajar yaitu menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian  tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.

3.2.       Saran
Setelah memahami uraian di atas, maka kami menyarankan kepada seluruh pendidik dan calon pendidik untuk betul-betul memahami tentang masalah belajar-mengajar berikut kesulitan-kesulitannya serta cara penyelesaiannya, mengingat hal tersebut akan sering dijumpai dalam dunia pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA


Djamarah, Syaiful Bahri. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Mufarrokah, Anissatul. 2009. Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta: Teras.
Mustaqim dan Abdul Wahib. 2003. Psikologi pendidikan. Jakarta: PT Melton Putra.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Syah, Muhibbin. 2007. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Winkel. 2005. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Penerbit Media Abadi.



[1] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar; (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), hlm. 22
[2] Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi pendidikan, (Jakarta: PT Melton Putra, 2003), hlm. 138.
[3] Winkel, Psikologi Pengajaran, (Yogyakarta: Penerbit Media Abadi, 2005), hlm. 100-101
[4] Ibid, hal 102-103
[5] Anissatul Mufarrokah, Strategi Belajar Mengajar,  (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 32
[6] Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 60
[7] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2007), hlm. 187
[8] Ibid, hlm. 187





Download makalah ini disini: